Dua hari terakhir ini saya dilanda perasaan tidak enak. Hal
itu dikarenakan dua hari sebelumnya saya membaca buku ‘mengikat makna
sehari-hari’ tulisannya Pak Hernowo. Membaca buku ini mengingatkanku kembali
beberapa tahunku yang lalu, ketika saya termotivasi
pertama kalinya untuk menjadi penulis. Ketika itu, saya membaca buku ‘mengikat
makna untuk remaja’ dengan pengarang yang sama yaitu Pak Hernowo. Buku yang
mengajak kita untuk menuliskan makna ‘Hikmah’ yang kita temukan dalam
keseharian kita.
Sementara alasan dua hari berturut-turut saya dilanda perasaan
tidak enak adalah karena saya sendiri tidak memulai untuk menuliskannya. Memang
dua hari itu saya sedang sakit.
Pertama kali ketika saya membaca buku itu adalah saya merasa
terhenyak kaget, karena beliau mengajak pembacanya untuk menjadikan menulis
menjadi sebuah pembiasaan dengan cara menulis apapun pengalaman bermakna anda dalam format diary atau buku harian.
Beliau menganjurkan agar tidak terpaku dengan tetek bengek kaidah kepenulisan.
Lalu beliau juga mengajak untuk menuliskannya dengan subjek orang pertama ‘saya
atau aku’ hal ini agar tulisan yang ditulis lebih mengalir.
Sebenarnya menulis diary adalah hal yang sudah saya biasakan
dari remaja, saya begitu menikmatinya, saya menuliskan dalam diary itu tentang
mimpi-mimpi saya. Dua tahun saya konsisten untuk menulisannya. Hingga saya
mengalami satu titik dimana saya tidak mau lagi untuk menulis tulisan dalam
format diary. Mungkin karena sibuk dengan pekerjaan atau alasan lainnya. Saya
malas untuk menuliskan keseharian melihat tulisan-tulisan saya kembali yang
isinya hanyalah sekedar mimpi dalam kertas dan selebihnya adalah
tulisan-tulisan galau. Membacanya kembali hanyalah membuat saya patah semangat
dan membuat saya malu sendiri.
Namun, dalam buku itu pembaca malah diajak untuk menulis
buku diary. Satu kegiatan yang saya hindari. Saya merasa diaryphobia. Saya pun
mulai introspeksi diri.
Beberapa hal saya
garis bawahi ‘berkesan’ dari buku itu adalah anda dapat menuliskan pengalaman
galau anda lalu kemudian anda merobeknya atau membakarnya sebagai shockterapi rasa galau(Kata penulis, setelah anda membakar atau merobeknya anda akan
merasakan terbebas dari rasa galau). Saya lalu tersenyum dalam hati mungkin saya
belum membakar tulisan-tulisan galau saya, Hehe…(just kidding boy!)
Selanjutnya, hal yang terpenting dari hal diatas adalah
penulis memberikan opsi lain dalam menulis tulisan berformat diary yaitu selain
mengikat makna pengalaman sehari-hari, anda juga mengikat makna dari tiap
buku-buku yang anda baca. Inilah yang cukup melegakan saya pribadi, karena
memang saya hobi membaca. Saya bisa menjadikan bacaan saya inspiasi tulisan
saya.
Memang sih menulis diary adalah tingkatan termudah dari
menulis. Tapi itu bisa dijadikan langkah pertama untuk menulis jenis
tulisan-tulisan lainnya, termasuk tulisan kasta atas yaitu tulisan ilmiah.
Apapun feel yang kamu rasakan ketika membaca tulisan bebas
ini, saya ucapkan selamat menulis! Salam pena!